-->

Seni Ukir Jepara dan Perkembangannya

Sejarah seni ukir di Jepara

Ukiran merupakan salah satu jenis seni kriya yang memiliki fungsi pakai dengan hiasan-hiasan berbentuk timbul dan cekung. Diukir menggunakan alat pahat khusus untuk mengukir (dalam bahasa Jawa disebut tatah) dan bahan bakunya berupa kayu. Kayu yang digunakan biasanya adalah kayu yang memiliki kualitas yang bagus dan tahan lama, yakni kayu mahoni dan kayu jati.

Asal mula keterampilan penduduk Jepara dalam hal mengukir dimulai pada masa pemerintahan Ratu Kalinyamat. Pada saat Pangeran Hadirin masih muda dan belum menikah, ia mengembara ke negeri Cina. Di Cina, ia bertemu dengan Tjie Hwie Gwan yang merupakan seorang Cina muslim dan kemudian menjadi ayah angkatnya. Saat Pangeran Hadirin kembali ke Jepara, Tjie Hwie Gwan ikut serta datang ke Jepara bersama Pangeran Hadirin.

Setelah Pangeran Hadirin menikah dengan Ratu Kalinyamat dan menjadi adipati di Jepara, Tjie Hwie Gwan diangkat menjadi patih dan namanya diganti menjadi Patih Sungging Badar Duwung. Sungging berarti memahat, badar berarti batu atau akik, dan duwung berarti tajam. Dialah yang membuat hiasan ukiran di dinding masjid Mantingan, dan kemudian ia juga mengajarkan keahlian mengukirnya kepada penduduk di Jepara.

Meskipun Tjie Hwie Gwan sibuk sebagai patih Kadipaten Jepara, Patih Sungging Badar Duwung masih sering mengukir di atas batu yang didatangkan dari Cina karena batu-batuan yang ada di Jepara tidak cocok untuk diukir. Namun, karena batu-batu dari Cina itu kurang mencukupi, maka sebagai gantinya penduduk di Jepara mengukir pada kayu. Dari kebiasaan mengukir, lama-kelamaan tumbuh kepandaian mengukir kayu dikalangan masyarakat Jepara. Hingga saat ini, masyarakat Jepara meyakini bahwa Patih Sungging Badar Duwung lah yang mewariskan keterampilan mengukir kepada masyarakat Jepara. 

Akan tetapi, ukiran Jepara mulai dikenal sampai ke luar daerah Jepara bahkan sampai ke luar negeri dimulai pada masa R.A. Kartini. Selain dikenal sebagai tokoh emansipasi wanita, Kartini juga mempunyai peran penting dalam mengembangkan dan mengenalkan ukiran Jepara kepada orang-orang di luar Jepara dan orang-orang luar negeri. Kartini sangat peduli terhadap kesejahteraan hidup para perajin seni ukir di Jepara.

Teknik-teknik mengukir


Teknik yang digunakan untuk mengukir kayu dimulai dari tahap pemotongan kayu, proses memahat, menggambar pola ukiran, dan finishing yang merupakan tahap akhir dalam mengukir.

a. Pemotongan Kayu Utuh

Pemotongan kayu merupakan hal yang paling awal untuk membuat pola ukiran. Memotong sebuah kayu datar berguna untuk membuat pola ukiran sehingga tampak tiga dimensi. Proses pemotongan ini biasa dilakukan dengan menggunakan sebuah gergaji manual ataupun menggunakan gergaji mesin.

b. Menggambar Pola Ukiran

Menggambar pola ukiran dapat dilakukan secara langsung dengan menggunakan alat tulis yakni dengan pensil yang cukup tebal agar pola yang digambar tidak hilang. Selain dengan teknik tersebut, ada juga teknik yang lain yakni dengan teknik menempel. Teknik ini cukup mudah, hanya dengan mengeprint atau memfoto copy gambar kemudian menempelkannya dengan lem pada kayu yang akan kita ukir.

c. Teknik Mengukir Kayu

Teknik mengukir kayu dibedakan menjadi 2, yang pertama ukiran dua dimensi (benda seni untuk benda pakai, seperti: kursi, meja, dipan, dll) dan yang kedua ukiran 3 dimensi (digunakan untuk ukiran seperti relung, yang diukir sampai bawah dan runcing).

Teknik 2 dimensi dimulai dari pengolahan kayu dan hanya diberi cekungan atau lekukan yang tidak terlalu dalam. Dalam pengerjaannya hanya perlu meluruskan atau mengikuti pola ukiran yang sudah dibuat sebelumnya. Sedangkan untuk teknik 3 dimensi merupakan teknik yang cukup sulit dan rumit. Dalam pengerjaannya, dilakukan melalui pola dan dengan motif-motif tertentu. Meskipun sudah digambar dengan pola, hal tersebut tidak terlalu berpengaruh karena nantinya akan diberi variasi-variasi ukiran yang lain yang dimiliki oleh seniman ukir.

Adapun alat-alat yang digunakan untuk mengukir terdiri dari alat pahat, palu, dan meteran. Palu ukir terbuat dari kayu yang keras agar tidak cepat tipis terkena pahat besi. Untuk pahat biasanya terbuat dari besi yang sudah dibentuk menjadi runcing dan tajam untuk mengeruk dan mengolah kayu. Sedangkan meteran digunakan untuk memberi jarak dan ukuran yang dibutuhkan jika ada gambar pola atau tempelan pola ukir yang kurang jelas.
(Alat Ukir)


(Proses mengukir)


d. Teknik Finishing

Teknik finishing untuk ukiran yang sudah jadi memerlukan ketelitian dan keahlian tersendiri. Proses akhir ini akan menjadikan ukiran itu terlihat bagus atau biasa saja. Dalam proses pengerjaan finishing 2 dimensi, alat yang paling penting adalah amplas dan bahan warna kayu. Finishing pada benda pakai seperti meja dan kursi, hanya perlu menghaluskan kemudian mewarnainya agar menjadi indah. Sedangkan untuk proses finishing 3 dimensi tidak perlu bahan warna untuk ukirannya agar ukiran tetap terlihat alami. Kalau memang diperlukan bahan warna, biasanya dipilih warna-warna alami agar keindahan asli kayu tetap terlihat. Beberapa seniman ukir Jepara biasanya hanya mewarnai bingkai pada ukiran 3 dimensi.

(Proses Finishing)

Motif ukiran khas Jepara

Ukiran disetiap daerah memiliki ciri khasnya masing-masing. Ukiran Jepara mempunyai motif dan corak yang unik dan khas sehingga berbeda dengan ukiran yang ada di daerah lain. Ciri khas ukiran Jepara adalah adanya motif daun trubusan, dan motif jumbai atau ujung relung, dimana bentuknya menyerupai kipas yang terbuka dan ujung daunnya mengecil atau meruncing. Terdapat tiga atau empat buah biji yang berasal dari pangkal daun. Tangkai relungnya memutar dan memanjang membentuk cabang-cabang kecil untuk memperindah dan mengisi ruang yang masih kosong. Untuk menambah keindahan motif ukir Jepara, biasanya ditambah variasi dengan motif binatang yaitu burung merak.

Motif-motif ukiran tersebut juga diterapkan pada berbagai jenis perabot rumah tangga seperti; kursi, meja, almari, tempat tidur atau dipan, buffet, figura atau bingkai kaca, dan lain-lain.


Gambar 1


Gambar 2

Keterangan Gambar :
  1. Tangkai Relung dari ragam hias ukir Jepara berbentuk panjang dan melingkar. 
  2. Jumbai adalah daun yang terbuka menyerupai kipas dan lebar. Pada setiap pangkal daun jumbai biasanya keluar 3 atau empat buah biji (disebuh buah wuni) dan disetiap ujung daun motif ukir Jepara bentuknya runcing. 
  3. Trubusan dalam motif ukir Jepara ada dua macam: 
  4. Trubusan yang keluar dari sepanjang tangkai relung berbentuk daun. 
  5. Trubusan yang keluar dari ruas atau cabang berbentuk buah susun (buah yang berjajar memanjang) 
Motif ukiran tersebut mempunyai makna menjaga keterpaduan, keseimbangan dan keselarasan di dalam lingkungan hidup masyarakat. Hal tersebut sangat penting karena masyarakat Jawa menyukai keselarasan dalam hidup.

Contoh aplikasi motif ukir Jepara pada perabot rumah tangga








Mebel kayu ukir Jepara mengandung makna-makna status sosial seseorang. Ada kursi yang berfungsi sebagai tempat duduk saja, tetapi ada pula kursi yang menunjukkan kekuasaan contohnya kursi raja, kursi direktur, dan kursi tahta. Biasanya kursi seorang Raja penuh dengan ukir-ukiran yang rumit.


Begitu pula dengan perabot rumah tangga seseorang mengandung makna tersirat untuk menunjukkan status sosialnya, apakah dia kaya atau miskin. Jika ia kaya, tentunya perabot rumah tangga yang digunakan adalah mebel yang mewah.

Perkembangan seni ukir di Jepara

Sejarah industri mebel Jepara telah mengalami perkembangan dan sejarah yang panjang. Prof.SP.Gustami menguraikannya ke dalam beberapa periode, antara lain:

a. Ratu Shima (zaman Hindu)

Pada zaman ini terdapat peninggalan (artefak) yang ditemukan di daerah Keling yang diduga sezaman dengan perkembangan pemerintahan Ratu Shima.

b. Ratu Kalinyamat (awal zaman Islam)

Sembilan abad setelah kekuasaan Ratu Shima, di Jepara lahir Ratu Kalinyamat. Ia merupakan sosok wanita yang pemberani, ahli dalam bidang seni dan tak-tik perang. Ratu Kalinyamat memiliki perhatian yang besar pada bidang seni kerajinan dan pertukangan yang pada saat itu sedang mengalami perkembangan dan membawa dampak pada terjalinnya hubungan internasional.

c. Raden Ajeng Kartini (zaman modern)

Tiga abad sesudah pemerintahan Ratu Kalinyamat, lahir tokoh perempuan lain, yakni Raden Ajeng Kartini yang terkenal sebagai tokoh emansipasi wanita, karena ia memiliki perhatian yang besar pada bidang pendidikan. Selain pada bidang pendidikan, ia juga memberikan perhatian pada bidang seni kerajinan dan ukir serta pertukangan. R.A. Kartini juga berhasil menciptakan seni ukir baru dan menyebarkannya ke berbagai daerah serta mempromosikan mebel ukir Jepara ke luar negeri.

d. Tien Soeharto (masa Orde Baru)

Tien Soeharto sangat perhatian dalam bidang seni dan budaya, atas dasar tersebut kemudian ia membangun pusat-pusat seni dan budaya diantaranya adalah TMII. Tien Soeharto juga turut serta mempromosikan mebel ukir Jepara melalui penyediaan ruang Jepara di Istana Negara.

Industri mebel Jepara mengalami masa kemajuannya pada tahun 1999-2000 dengan nilai ekspor mencapai lebih dari 200juta dolar AS. Akan tetapi, karena maraknya penebangan kayu secara liar serta rendahnya pengawasan pada kualitas ekspor mebel dan menurunnya permintaan mebel dunia sebagai dampak dari melemahnya ekonomi dunia pada tahun 2001-an memberi dampak pada perkembangan industri mebel Jepara.

Berdasarkan catatan pemerintah, tahun 2004 di Jepara terdapat 3.539 unit produksi usaha mebel yang terdaftar pada Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi, dan Penanaman Modal. Di luar itu, diperkirakan masih terdapat sekitar 15.000 unit usaha kecil. Dari total industri mebel yang ada, Jepara mampu menyerap sekitar 85.000 tenaga kerja.

Industri mebel bagi kabupaten Jepara menjadi sektor utama. Sektor ini menyumbang Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) tertinggi. Tercatat pada tahun 1998, sektor industri menempati posisi 61,3% kemudian baru diikuti oleh sektor perdagangan, hotel dan restoran (29,9%), sektor pertanian (3,4%), sektor jasa (2,7%), dan sektor keuangan sebesar 2,4%.

Setiap bulannya, Jepara mampu menghasilkan rata-rata 400 kontainer mebel ukir untuk diekspor. Dari ratusan ekspor yang ada, ekspor yang dihasilkan sebesar 52.642,5 ton dengan nilai 112,6 juta dolar AS. Hal tersebut tak lepas dari keterampilan pengukir Jepara yang kreatif dan handal.

Selain karena faktor keterampilan yang turun temurun, keterampilan perajin ukir Jepara juga didukung dengan adanya pendidikan formal yang khusus melatih keterampilan mengukir. Di tingkat menengah, terdapat SMK Negeri 2 Jepara yang khusus mendidik siswa dibidang Seni Rupa dan Kerajinan. Selain Kerajinan ukir kayu, dilatih pula kerajinan batik, keramik, dan logam. Sedangkan di tingkat perguruan tinggi, terdapat Akademi Teknologi Industri Kayu Jepara (ATIKA). Akademi ini membuka program studi Manajemen Industri Kayu, Desain Kayu, dan Teknik Mesin Kayu.

Jepara yang dikenal sebagai penghasil mebel terbesar di Indonesia pada tanggal 17 Juli 2010 telah memecahkan rekor Indonesia dalam kegiatan mengukir kayu secara bersama-sama dalam satu tempat dengan jumlah peserta 502 orang, sehingga MURI mencatat Kabupaten Jepara dalam buku rekornya yang ke 4391. Piagam atau sertifikat MURI tersebut diserahkan oleh Kepala Museum Rekor Indonesia yang diwakili oleh Ariyani Siregar (Deputy Manager) kepada Bupati Jepara Drs. Hendro Martojo,MM di alun-alun Jepara bersamaan dengan diadakannya lomba mengukir dalam rangka memperingati Hari Jadi Kabupaten Jepara.

Industri permebelan di Jepara juga didukung oleh tersedianya pasokan bahan baku berupa kayu jati dan mahoni dari daerah sekitar Jepara. Kayu tersebut didapatkan dari Perhutani, pedagang kayu, maupun hutan rakyat. Daerah-daerah penghasil kayu yang selama ini memasok kayu untuk mebel Jepara adalah Boyolali, Blora, Kendal, Klaten, Pemalang, Rembang, dan Sragen.

Untuk sekarang ini, dunia ukir mengalami masa kemunduran. Seiring dengan perkembangan zaman dan berdirinya pabrik-pabrik dari luar negeri di Jepara membuat kerajinan Seni Ukir mulai tersisihkan. Hal tersebut dibuktikan dengan berkurangnya minat anak muda untuk belajar mengukir. Pekerjaan sebagai pengrajin ukir sudah tidak lagi diminati oleh anak muda sekarang. Mereka lebih memilih bekerja di pabrik-pabrik seperti garment, sepatu, mie, dan lain-lain daripada harus berkotor-kotor mengukir. Selain itu, minat siswa terhadap ukir dan pertukangan juga sudah berkurang, hal tersebut ditandai oleh berkurangnya tenaga pengukir muda di desa ukir Jepara tepatnya di desa Mulyoharjo. Dari sekitar 8.000 penduduk desa yang menjadi pengrajin ukir hanya 30%. Hal tersebut sangat berbanding terbalik dengan zaman dulu separuh penduduk di desa Mulyoharjo yang menjadi pengrajin ukir sebesar 70%.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Seni Ukir Jepara dan Perkembangannya"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel